mencari jejak leluhur di trunan tidar Magelang


     Saya dilahirkan di kota dingin malang. tetapi konon kata ayah saya ,kakek saya adalah asli dari trunan tidar Magelang, masih menurut ayah  juga bahwa masih ada keluarga yang di trunan tidar yang bernama Wongso sombro, yaitu sodara ayah lain ibu juga ada yang di semarang daerah kailan serta ada yang di kalimantan 

    Tetapi semua itu seperti hilang ditelan bumi bahkan untuk menemukan keluarga kakek  sudah hilang kemungkinannya 

    Kakek saya seorang tentara hindia belanda yang jaman dahulu terkenal dengan nama marsose, beliau terakir berpangkat kopral , sehingga nenek saya yang hidup di daerah claket depan RSU Saiful anwar kota Malang terkenal dengan sebutan mbah kopral,

    Kakek saya bernama   SALIM RANUSUMITO dengan pangkat kopral dan  terkenal dengan nama Kopral Salim Ranusumito, beliau masuk ketentaraan hindia Belanda mulai muda dan juga ditugaskan ke Aceh,Makasar serta Bone  ada satu pesan yang sering disampaikan oleh ayah saya " pengalaman seorang tentara dengan kemenangan perang maka pada saat itu banyak sekali harta rampasan atau harta sitaan dari kemenangan perang tersebut dan kakek  berpesan janganlah kamu khilaf pada saat melihat harta yang bukan milik kita "

    Masih menurut cerita beliau  pada saat  perang Bone kakek  mengalami kemenangan dan memperoleh harta perang yang sangat banyak ada temannya yang serakah membawa harta tersebut tetapi malang tidak bisa ditolak mujur tidak bisa diraih, orang yang membawa harta tersebt ternyata tertembak dalam perjalanan, akhirnya harta tersebut di naikkan di atas kuda tetapi lagi - lagi kuda tersebut juga tertembak dan mati ahirnya harta kemenangan tersebut di tinggal karena dianggap harta tersebut bukan hak mereka dengan kejadian tersebut maka kita di ingatkan bahwa dalam keadaaan apapun kita harus tetap ingat bahwa harta yang bukan milik kita bisa membawa kita mengalami hal yang tidak kita inginkan .

    Terinspirasi dengan cerita ayah  bahwa kakek  berasal dari wilayah Trunan Tidar  dan masih ada saudara yang ada di sana suatu saat  ada kesempatan di akhir tahun 2019 ada teman yang menikah di daerah Candimulyo Magelang saya berkesempatan untuk menghadirinya ,tujuan saya apabila masih diperkenankan oleh Alloh masih bisa bertemu dengan saudara yang di trunan tidar 

    Pada hari Jum'at tanggal 27 Desember dengan mengunakan kereta api Malioboro ekspres kita berangkat jam 20,00 WIB  ke kota jogyakarta dengan diiringi suasana grimis  dan sampai di yogjakarta dini hari jam 02,30 kami beristirahat sambil menunggu sholat subuh di stasiun yogja, menjelang pagi hari  mencari travel ke arah Magelang.Trafel dari PT  Damri kita berangkat menuju Magelang ,sesampai di sana untuk pemberhentian terakir di kota Magelang turun  di hotel wisata magelang,  pada saat kami turun di depan hotel dan kami mencari toilet dan tempat mandi umum ternyata tanpa kami sengaja kami mendapatkan toilet yang sepi dan sangat bersih di bawah kaki gunung tidar.

    Setelah mandi kami berbincang bincang dengan penunggu toilet tersebut, dan mendapat  keterangan bahwa ternyata di puncak gunung Tidar tersebut terdapat makam seorang auliya' atau penyebar agama Islam yang bernama syeh Subakir , semakin penasaran dan terus bertanya tanya pada penunggu toilet tersebut tentang bagaimana keadaan dan cara masuk ke atas tersebut, dengan jawaban yang sangat ramah memberikan informasi bahwa tempat tersebut adalah tempat umum yang sering dikunjungi oleh peziarah dari seluruh nusantara untuk berdoa di maqom tersebut .naluri untuk mengetahui semakin menguat akhirnya setelah selesai madi dan dalam keadaan bersih kami mencoba untuk naik ke puncak gunung tidan dan ingin berdoa di maqom auliya. Syeh Subakir.

    Ternyata ada pintu masuk untuk dapat naik ke atas gunung tersebut, dengan membayar tarif sebesar Rp 5000,00 untuk naik, setelah membayar kita langsung dihadapkan anak tangga yang cukup banyak dan tidak sempat dihitung berapa jumlah nya niat utama hanya ingin berdoa saja dari anak tangga pertama suasana sangat sepi dan sejuk karena gunung tersebut masih ditumbuhi pohon hutan yang masih asli padahal letak gunung tidar itu ada di tengan tengah kota Magelang.suasana juga sangat bersih tetapi cukup untuk membuat kami mandi keringat dikarenakan anak tangga yang karus di daki lumayan banyak dan terus naik, di tengah perjalana ada tempat istirahat yang diperuntukkan bagi peziarah yang lelah disana ada beberapa orang penjual minuman,setelah beristirahat sejenak ,perjalanan diteruskan dan sampailah di mushola kecil yang sangta rapi dan bersih, ternyata di belakang mushola itulah maqom auliya' yang  menjadi tujuan  tanpa menunggu waktu lagi langsung kami ambil posisi berdo'a dengan tujuan mendoakan auliya' tersebut .

    Syeh Subakir ternyuata adalah Uliya'yang besal dari Persia yang menjadi penyebar agama Islam di Nusantara dan konon beliaulah yang menubali tanah jawa supaya aman dari gangguan jin dan makhluk halus lainya supaya manusia bisa dengan mudah beribadah pada Alloh SWT.

    Selesai berdoa kami turun sebenarnya diatas atau puncak Gunung Tidar masih ada tugu yang konon di tugu tersebutlah yang di tanamkan tumbal oleh syeh Subakir untuk tanah jawa , tugu tersebut berbentuk segitiga dengan di masing sisinya ada tulisan huruf SA dalam tulusan jawa,

    Sampai di bawah gunung suasana sudah mulai ramai dan kami melanjutkan perjalanan ke kecamatan Candimulyo dengan  mengunakan angkutan umum untuk menghadiri pernikana teman tersebut. 

    Tujuan awal ingin bertemu saudara yang ada di trunan sementara sama Alloh masih belum di perkenankan tetapi kami tetap berdoa untuk bisa kembali ke tanah leluhur dan menyambung tali silaturahmi dengan saudara dari kakek kami,semoga Alloh mengabulkan doa kami..... aamiin 

KELUARGA BESAR MBAH KOPRAL SALIM RANUSUMITO

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mawas Diri

Mas Guru